Mempelajari sejarah gereja Indonesia maka akan menemukan
kegagalan dan keberhasilan yang telah terlewatkan, namun masih dapat menjadi
acuan pembelajaran untuk memperbaiki sejarah gereja Indonesia dikemudian hari,
sehingga hal-hal yang salah pada masa
lalu akan menjadi modal utama membangun kembali strategi yang baik untuk
kemajuaan gereja dan akan menjadi catatan khusus, mengingat jejak rekam yang
lalu dengan yang sekarang maka, Study Komperatif Masa Lalu dengan Masa Kini menjadi hal
penting. Dimulai dengan adanya Semangat
dalam pekabaran injil orang luar Negri.
Sejak dahulu semangat dalam pekabaran injil orang luar
negri ini tak terlepas dari salah satu contoh pengaruh perdagangan yang
dilakukan oleh VOC(Belanda), dan dari pelbagi negara yang pada saat itu masuk ke
Indonesia dengan maksud menjajah pada daerah-daerah yang menjadi basis
penjajahan mereka. Sehingga dalam melakukan penjajahan mereka juga melakukan
pekabaran injil. Tak heran semangat ini menimbulkan harapan bagi sebagaiian
mereka yang pada saat itu terkena jajahan.
Ada diantara mereka merebah pada sektor pendidikan dengan
tujuan mereka didik untuk mengenal dan mengetahui kristus. Ajaran mereka juga
sering dikonotasikan pada agama jajahan sehinggah hal ini mempengaruhi semangat
mereka, bukan justru sebaliknya, maka tak heran mereka para pekabaran injil mau
membayar mahal segalanya demi kabar dapat diterima pelbagai lapisan. Para
pekabar injil rela meninggalkan kampung halamanya, lalu mereka pergi berlayar
untuk satu tujuan supaya tegaknya kabar injil didaerah itu. Tak asing lagi bagi
mereka harus kehilangan profesi asli mereka, meninggalkan orang yang mereka
kasihi, hanya untuk mendidikasi waktu, tenaga, bahkan merogoh kantong pribadi
mereka demi injil ada di daerah itu.
Bahkan ada sejarah yang mencatat mereka para pekabar
injil harus rela mati diwilayah itu demi masuk nya injil. Semangat ini lah yang
menjadi pioner mereka untuk menambah jumlah mereka. Bila dilihat dari segi
pengorbanan mereka tak ayal mereka adalah orang-orang militan yang rela mati
demi injil hidup diwilayah itu. Usaha pekabaran Injil yang berlaku di daerah
itu memiliki keistimewaanya sendiri. Sifat keistimewahan inilah yang mampu
mendukung kunikan pada pekabar tersebut yang mampu menarik perhatiaan bagi
masyarakat yang belum mengenal injil.
Hal Pertama-pertama kita akan melihat pekabaran injil
yang terjadi didaerah Tapanuli. Di daerah Tapanuli terjadi perkabaran injil
dimulai dengan adanya kerja sama dan menurut suatau rencana yang tetap. Dimulai
dengan adanya acara konfersi para pekabaran injil diSipiriok. Mereka sepakat
didalam langkah-langkah mereka. Bukan seperti didaerah-daerah lain, setiap para
pekabar menjalankan ikhtiarnya masing-masing, melainkan usaha mereka disitu
terjadi karena kata sepakat. Disisi lain perhimpunan RMG di Jerman memberi
dukungan sepenuhnya untuk melaksanakan pengkristenan di Tapanuli sebagimana
semestinya. Selain bersifat dukungan adanya juga penambahan utusan pekabara
injil yang menambah jumlah para pekabar
Bila melihat yang terjadi didaerah Tapanuli
bahwa pekabaran injil ini dapat berjalan karena usaha dan kesepakatan maka
dapat disimpulkan semangat pekabaran injil diera saat ini juga dapat mencontoh
cara yang dilakukan para era dahulu. Dimana para pekabaar memiliki usaha-usaha
agar kabar injil itu dapat diterima oleh masyarakat. Cara-cara penginjilan atau
pekabaran ini juga pasti memiliki metode-metode yang belum sempurna, maka untuk
kita saat ini dibutuhkan metode seperti buku tanpa kata, buku-buku panduan yang
mengajarkan banyak tentang pekabaran injil.
Bila dari Jerman ada perhimpunan yang mendukung pekabaran
injil untuk Indonesia, maka era saat ini Indonesia harus memiliki perhimpunan
atau sekelompok organisasi yang berbadan misi untuk penginjilan didaerah
suku-suku yang belum tersentuh injil. Dengan selalu mendukung melalui doa,
dana, dan memberi motivasi bagi para pekabar injil, sehingga semangat itu dapat
tertular bagi orang lain. Seperti yang dilakukan oleh penginjilan online Indonesia,
mereka membuat begitu simpel, menarik, namun untuk proses tindak lanjut tidak
ada, kekurangan ini seharusnya segera diperbaruhi, sehingga apa yang sudah
mereka lakukan tidak terbuang sia-sia. Bila yang mereka lakukan adalah membuat
sebuah vidio yang berdurasi 3-5 menit, lalu vidieo mereka buat di bagikan ke
pelbagi dunia maya itu hanya mengundang simpati, walaupun ada juga yang
tersentuh namun hal itu sangat sedikit. Ada baiknya bila semangat dalam
penginjilan dunia maya dilanjutkan pada target yang langsung dilanjutkan,
sehingga mereka yang menjadi target dapat terlihat buahnya, apakah orang itu
benar sudah memahami, atau hanya sekedar menonton, lalu melupakan begitu saja.
Dibutuhkan team lagi yang mampu mementoring orang yang telah menonton video penginjilan,
disinilah akan terlihat sebuah pengorbanan seorang penginjil, dan semangatnya
akan mampu jadi teladan, sehingga menciptakan generasi yang juga memiliki
bidang misi penginjilan.
Semangat dalam pekabaran injil saat ini juga terus
membawa banyak orang asing sampai saat ini terlibat dalam misi penginjilan,
mereka adalah salah satu contohnya para pekabaran injil dari korea yang membuat
suatau tujuan perjalanan mereka dengan alasan memberi pengobatan, namun yang
mereka lakukan menjadi pelaku-pelaku injil diwilayah yang telah mereka tetapkan
sebagai wadah injil. Keikutan serta mereka memberikan kesehatan gratis mampu
mengubah paradigma seseorang bahwa apa yang dilakukan orang kristen bukanlah
yang selalu jahat, namun mendatangkan kebaikan. Ada pula dengan alasan mereka
membagun perusahaan di Indonesia dengan tujuan itu mampu memberikan izin bagi
mereka tinggal, padahal mereka lakukan adalah tetap semangat pekabaran injil
itu sendiri.
Sejalan hal ini mereka juga bergerak mengerjakan para
pekerjanya yang dari luar kristen, dengan tujuan bahwa perusahan yang mereka
pimpin itu tidak menjadi batu sandungan, namun memampukan mereka untuk menjalin
kebersaaman yang saling menguntungkan. Dapat dibayangkan bila perusahan mereka
mengerjakan orang bukan kristen, maka orang yang bukan kristen akan melihat
langsung apa yang terjadi, bila hal ini berkelanjutan maka, akan berdamapak
pada sektor perusahan mereka maju dan membuat masa mereka tinggal jadi panjang.
Hal inilah
berdampak saling menguntungkan. Adapun dampak
negatif yang mereka buat adalah tidak adanya meninggalkan jejak bagi
generasi berikutnya, sehingga semangat pelayanan tadi berubah kearah keuntungan
pribadi. Perubahan ini cepat atau lambat akan mempengaruhi bagi dampak relasi
pemerintah gereja terhadap pertumbuhan pekabar injil gereja/ PI. Sekilas saja
dalam hubungan relasi yang terjadi pada masa dahulu begitu baik-baik dimana
hubungan ini berdampak pada kemajuan yang terjadi pada pekabaran injil itu.
Tidak adanya masalah yang muncul pada jaman dahulu, walaupun sempat adanya
persaingan diantara para pekabar injil namun, hal itu tidak menjadi masalah
besar. Bila hal ini baik maka pada saat ini relasi pemerintah gereja terhadap
pertumbuhan gereja/PI sebagai berikut.
Situasi Indonesia.
Beberapa buah pikiran di atas yang
muncul sebagai akibat dari ucapan Dr. Leimena mengajak kita untuk menghadapi
keadaan konkrit, yakni relasi Gereja dan Negara di Indonesia.
Dalam ruang Pancasila dan UUD 1945,
nampak hubungan Gereja dan Negara yang dapat dikatakan relatif baik. Negara
Republik Indonesia adalah Negara yang didasarkan atas ideologi Pancasila.
Negara ini bukan negara teokratis yang berdasarkan agama. Sekalipun Negara Rep.
Indonesia bukan negara keagamaan, namun R.I. bukan juga negara sekuler,
melainkan Hindu dan Budha. Pas. 29 ayat 1 UUD 1945 mengungkapkan bahwa Negara
berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, bahwa Pas. 29 ayat 1, tersebut
mengungkapkan, bahwa bangsa Indonesia percaya terhadap Tuhan Yang maha Esa.
(Lihat Penjelasan UUD 1945). Dengan kata lain, bangsa Indonesia pada hakekatnya
adalah bangsa yang religius. Apakah religiusitas tsb dapat bertahan terus
menerus dengan merembesnya dalam tempo yang agak cepat yakni ilmu pengetahuan
dan teknologi modern serta filsafat yang mendasarinya, tidak dipersoalkan di
sini. Yang penting, adalah bahwa baik ideologi Negara Pancasila, maupun dalam
UUD 1945, agama mendapat perhatian yang khusus oleh Negara. Malahan UUD pasal
29 ayat 2 mengatakan, bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu.” Dan dalam penjelasan atas B II angka 1 Pedoman Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila (Ket. MPR No II/MPR/1978) ditegaskan lagi, bahwa,
“kebebasan beragama adalah merupakan salah satu hak yang paling asasi diantara
hak-hak asasi manusia, karena kebebasan beragama itu langsung bersumber kepada
martabat manusia sebgai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan beragama bukan
pemberian Negara atau pemberian golongan.” Jadi hak kebebasan beragama
dinyatakan sebagai “inalienable right” oleh P4.
Ditinjau baik dari sudut ideologi
Pancasila dan P4-nya, maupun dari sudut Konstitusi, maka hubungan Negara dan
Agama pada umumnya nampak jelas teratur. Negara tidak acuh tak acuh terhadap
agama, melainkan justru bersikap positif dan kreatif. Namun Negara tidak
didasarkan atas salah satu agama.
Berbicara tentang Gereja dan
Negara, maka perlu kita membuat distinksi antara agama dan Gereja. Gereja
adalah suatu bentuk dari pada Agama Kristen, malahan bentuk yang terpenting .
Inti dari pada agama adalah kultus dalam nya manusia memainkan peranan. Orang
berdoa, menyanyi, memuji Tuhan, orang menyatakan pengakuan iman, orang membaca
dan berkhotbah, ada pula makan dan minum pada Perjamuan Kudus, dsb.
Setiap orang Kristen sebenarnya
tergabung pada Gereja Tuhan. Setiap orang percaya kepada Kristus berada dari
pada sendirinya dalam ruang Gereja. Ia adalah anggota dari pada apa yang Rasul
Paulus katakan, Tubuh Kristus; atau Persekutuan orang-orang kudus, menurut
Pengakuan Rasuli. Tetapi disamping Gereja yang berbentuk organisasi orang-orang
percaya itu, dalamnya diselenggarakan tugas-tugas kesaksian , pelayanan,
penataan Gereja, liturgi, dsb, terdapat pula, perkumpulan-perkumpulan Kristen,
yayasan-yayasan, lembaga-lembaga, dsb yang struktural dapat lepas dari pada
Gereja. Pokoknya yang disebut agama Kristen mempunyai konotasi yang lebih luas
dari pada Gereja. Tetapi jelaslah sudah, bahwa yang satu tidak terlepas dari
pada yang lain.
Apabila dalam rangka Pancasila dan
UUD 1945, agama mempunyai tempat yang integral dalam tata-hidup bangsa dan
negara, maka itu berarti bagi agama Kristen, bahwa Gereja mendapat pula tempat
yang tertentu. Dan jelaslah sekarang pula hubungan Gereja dan Negara. Negara
tidak memaksakan kenegaraannya kepada Gereja, tetapi mengatakan kepada Gereja
tentang posisinya dan kewajibannya sebagai suatu lembaga keagamaan dalam
masyarakat. Gereja merasa ikut bertanggung-jawab dalam semua hal yang
menyangkut masyarakat.
Dalam hal ini Gereja menjawab
secara positif, ada solidaritas dan solidaritas Gereja itu adalah solidaritas
yang kritis. Disebutkan kritis, karena Gereja mempunyai standard of judgment
sendiri tentang keadaan dunia, yakni Firman Tuhan atau kehendaknya. Dengan kata
lain, dalam rangka Pancasila dan UUD 1945, Gereja adalah partner yang dinamis
dan kreatif dari pada negara, partner yang bertanggung –jawab dalam rangka
pembaharuan bangsa, masyarakat dan dunia. Karena itu, demi untuk memperbaiki
keadaan masyarakat dan menjamin masa depan, maka Gereja wajib ikut aktif
melayani ABRI sebagai aparatur Negara dengan menugaskan pendeta-pendetanya
dalam lembaga tersebut.
Sebelum mengakhiri uraian singkat
tentang relasi Gereja dan Negara, perlu sekali dikemukakan tentang
partai-partai politik. Sebab dalam konteks hubungan Gereja dan Negara, partai
politik mesti diikutsertakan. Malahan partai politik dilihat dari sudut ideal
mempunyai kaitan juga dengan gereja. Partai politik ingin mendatangkan kebaikan
bagi masyarakat, kebenaran, keadilan bagi seluruh bangsa. Disamping partai
politik di Indonesia terdapat pula kekuatan lain, yakni Golongan Karya
(Golkar).
Untuk memberikan penjelasan
selanjutnya perlu dikemukakan sedikit tentang Demokrasi, sebab Parpol dan
Golkar, adalah komponen-komponen yang penting dalam paham demokrasi di
Indonesia. Lepas dari pada persoalan cara-cara demokrasi direalisasikan di
Indonesia, adalah soal paham dasar dari pada demokrasi itu. Dan berikut muncul
pertanyaan tentang partai politik. Artinya Parpol dan Golkar perlu mengetahui
paham dasar dari pada demokrasi.
Kami catat, bahwa kehidupan bersama
bangsa atau nasion mesti ditata. Penataan itu dibimbing oleh insight yang
diperoleh dari pada ideologi pancasila serta P4-nya dan konsekwensinya dalam
tata hukum berdasarkan UUD 1945. Ini adalah tugas dari pada penguasa dalam
kerjasama dengan Parpol-parpol dan Golkar. Tetapi ada baiknya pula, demi untuk
melengkapi gambaran keluarga besar Indonesia, apabila lembaga-lembaga lain
dalam masyarakat diajak bersama dalam pelaksanaan tugas termaksud diatas, ump. Gereja.
Dalam hubungan ini, paham dasar
dari pada demokrasi adalah, bahwa dalam persoalan-persoalan hakiki dan
fundamental yang menyangkut manusia, persoalan-persoalan sebagai pemegang
kekuasaan, berembuk dengan rakyat melalui Parpol-parpol, Golkar dan lembaga-lembaga
masyarakat yang non-Pemerintah, non-Partai dan non-Golkar.
Paham dasar demokrasi di sini
menyangkutkan manusia pada persoalan mengenai kebenaran, kebaikan dan keadilan.
Dan ini kena pada semua yang bersangkutan dalam negara, melainkan pula alam
atau lingkungan. Jadi paham demokrasi di sini menyangkut persoalan manusia dan
eksistensinya. Cara mengadakan perembukan termaksud adalah bermusyawarah dan
mencapai mufakat.
Partai politik atau organisasi
massa yang tidak menamakan dirinya partai politik dan ikut membicarakan
soal-soal politik, yakni Golkar, adalah organisasi bebas yang dibentuk oleh
warga negara-warga negara yang bebas pula dengan maksud berpartisipasi
sepenuhnya dalam hidup umum masyarakat secara kreatif dan dinamis.
Ditinjau dari sudut idiil, semua
partai politik dan Golkar terikat pada dasar Negara, yakni Pancasila serta
P4-nya dan UUD 1945.
Dalam hubungan dengan catatan
dengan Parpol dan Golkar di atas, maka ada 2 hal yang meminta perhatian.
Pertama, bahwa bangsa Indonesia hidup bersama sebagai satu nation atau sebagai
satu keluarga besar. Hidup bersama itu mesti ditata sebaik-baiknya oleh
orang-orang yang mengetahui dan sekaligus merupakan orang-orang yang bijaksana.
Apakah penataan hidup bersama tersebut dapat dilakukan hanya oleh teknokrat-teknokrat,
yaitu mereka yang “technically trained” yang ditempatkan pada pusat-pusat
pengambilan keputusan tentang masalah-masalah politis? Pendapat kami, tidak,
malahan dapat membahayakan. Karena paham bahwa teknorat ilmiah dapat
mendatangkan segala yang dibutuhkan masyarakat, atau ia dapat menyembuhkan
segala penyakit masyarakat, adalah naif.
Kepemimpinan politik adalah seni,
bukan science ; seni tentang apa yang mungkin dan apa yang tidak. Political
leadership membutuhkan charisme, karunia intuisi, bahkan naluri juga. Jadi
dalam proses pengambilan keputusan politis ada faktor-faktor lain yang perlu
diperhatikan, bukan saja ilmu dan teknokrasi. Kedua, menata hidup bersama,
berarti, bahwa manusia yang mahir dalam pemikirannya dan bijaksana dalam mengambil
keputusan, mesti pandai memilih dan menentukan mana yang baik, mana yang tidak
bagi kehidupan bersama, mana yang benar, mana yang tidak. Ini adalah tugas
penting dari Parpol dan Golkar dalam demokrasi. Dan pekerjaan ini adalah lebih
dari pada pekerjaan seorang teknokrat. Tugas yang mencakup pengetahuan dan
pilihan tentang yang baik, benar dan adil, dilakukan oleh partner-partner dalam
musyawarah, yakni Parpol dan Golkar.
Kalau kesadaran demikian hidup
dalam Parpol-parpol dan Golkar, maka Gereja patut menghargai Parpol-parpol dan
Golkar. Dengan kata lain, apabila dalam pandangan Gereja, Negara itu adalah
soal yang suci, maka Parpol dan Golkar adalah juga soal yang suci. Dan dalam
merumuskan relasi Gereja dan Negara, harus pula dicantumkan unsur Parpol dan
Golkar. Dan ini adalah tugas Gereja, yakni gereja-gereja dalam hubungan
oikumenis.[1]
Melihat akan baiknya hubungan relasi pemerintah gereja terhadap
pertumbuhan akan sangat berdampak juga
pada perkembangan injil ditengah agama/
kepercayaan suku. Seperti suku batak,
sumatra utara, dimana suku yang sangat kental akan budaya dan kepercayaan suku
membuat suku ini bebrapa kali dikunjungi oleh misionaris, namun sempat
mengalami kegagalan yang kegagalan inilah yang membuat nomensen gigih dalam
memperjuangkan nasib penginjilan ditengah-tengah kepercayaan suku. Tidak hanya
berhenti disitu saja namun mampu menjadi awal mulanya gereja muncul berkat
kegigihan nomesen lahirlah gereja hkbp. Kita akan melihat perkembangan
pekabaran injil saat ini terjadi di suku sunda.
Mengerti dan memahami bahasa suku
Sunda.
Untuk dapat berkomunikasi dengan
masyarakat, maka kita terlebih dahulu harus mengerti bahasa yang mereka pakai untuk
berkomunikasi. Bagaimana komunikasi kita akan berlangsung dengan lancar,kalau
kita tidak mengerti dan memahami bahasa sunda,karena bahasa sunda sendiri ada tingkatannya.Berbicara
kepada orang yang lebih tua usianya ,maka
bahasa yang akan digunakan bahsa sunda yang lembut,beda dengan ketika
kita bercakap-cakap dengan yang sebaya dengan kita. Oleh sebab itu kita harus mengkomunikasikan injil kepada mereka harus menggunakan Alkitab berbahasa sunda,dengan jalan membagikan Alkitab yang berbahasa sunda kepada mereka.Sehingga mereka mudah untuk mengerti dan memahami Injil.Menceritakan Injil dengan sabar serta
santun,tentang Tuhan Yesus. Serta dapat juga menceritakan Injil melalui cerita rakyat yang mungkin ada hubungannya dengan tokoh-tokoh penyelamat mereka. Tetapi hanya sebagai kontekstualisasi.
Mengadakan pendekatan (bermasyarakat ) terhadapa suku Sunda
bahasa yang akan digunakan bahsa sunda yang lembut,beda dengan ketika
kita bercakap-cakap dengan yang sebaya dengan kita. Oleh sebab itu kita harus mengkomunikasikan injil kepada mereka harus menggunakan Alkitab berbahasa sunda,dengan jalan membagikan Alkitab yang berbahasa sunda kepada mereka.Sehingga mereka mudah untuk mengerti dan memahami Injil.Menceritakan Injil dengan sabar serta
santun,tentang Tuhan Yesus. Serta dapat juga menceritakan Injil melalui cerita rakyat yang mungkin ada hubungannya dengan tokoh-tokoh penyelamat mereka. Tetapi hanya sebagai kontekstualisasi.
Mengadakan pendekatan (bermasyarakat ) terhadapa suku Sunda
Ada beberapa media dan fasilitas
yang bisa digunakan dalam mengkomunikasikan Injil kepada suku
sunda,diantaranya: Membangun hubungan dalam pergaulan,kita harus berbaur dengan
mereka,sehingga kita dapat memberi teladan melalui prilaku kita yang sopan,tutur
kata ramah, dan sikap kita sehingga menjadi kesaksian yang hidup .Dalam
komunikasi dengan mereka kita harus memiliki:
komunikasi dengan mereka kita harus memiliki:
Keterampilan Mendengar Bukan
sekedar mendengar dengan telinga tapi dengan mata juga, kontak mata memang
penting,juga mendengar dengan hati.Bukan hanya mendengarkan kata-kata,
melainkan juga perasaan,emosi, dan nada dibalik kata-kata tersebut.
Empati Kita harus menyelami keadaan mereka.Bukan berarti kita setuju dengan mereka, melainkan memahami latar belakang atau sejarah kehidupannya. Jika mereka memiliki keberatan yang kuat tentang Kristus atau mempunyai konsep yang keliru,kita harus mengerti apa yang mereka katakan. Keterampilan berkata-kata, Kita harus tahu dalam berkata – kata bukan hanya apa yang kita katakan ,melainkan kapan kita mengatakannya dan bagaimana kita mengatakannya. Contoh,Rasul Paulus memakai kesaksian pribadinya.Paulus memiliki tekad yang bulat untuk bersaksi(KIS 17:16),Paulus bersaksi setiap waktu(KIS 17:2)dan kapan saja(KIS 17:16-34) Paulus menciptakan untuk bersaksi melalui kata-kata(KIS 17) Bahasa Tubuh Bahasa Tubuh sangat penting dan merupakan sarana komunikasi yang sangat kuat.Ketika kita bersaksi tentang Injil, hendaknya kita tidak menyalurkan gelagat
kemarahan, ketidaksabaran, cemoohan, ataupun kesan sombong, merasa lebih
baik dari orang lain. Memberikan pelayanan Untuk menjangkau masyarakat yang tidak ada biaya untuk pergi berobat, maka diadakan, penyuluhan kesehatan, lewat hal ini kita dapat menceritakan Injil keselamatan.[2] Pembahasan selanjutnya adalah pengaruh budaya local dan barat terhadap pekabaran injil. Pengaruh ini sangat mendorong gerakan percepatan pada bidang penginjilan dengan adanya budaya dari daerah dengan barat menjadi warna yang sangat menarik untuk dikuti dan terus di jalani. Walaupun dalam kenyataanya akan ada sebuah gesekan pada nilai tukar budaya tersebut. Bagaimana dengan saat ini mari kita simak para misionaris perlu mengetahui hal tersebut, agar Injil yang mereka sampaikan itu mudah menembus masyarakat yang akan mereka Injili, pada kenyataannya banyak para misionaris yang berhasil dalam penginjilannya karena mereka menguasai terlebih dahulu daerah maupun masyarakat yang hendak mereka tuju, (Ilmu yang mempelajari hak tersebut adalah Antropologi, dan diberikan sebagai mata kuliah mahasiswa Theologia) sebagai contoh pada saat Injil masuk ke Pulau Nias (Bagian barat Pulau Sumatra) Denninger (missionaris pertama di Nias) mempelajari bahasa dan tata serta cara hidup masyarakat setempat, sehingga penginjilannya di Nias berhasil dan saat ini masyarakat Nias 90% Kristen, inilah bukti bahwa penginjilan berbasis pada penyesuaain kebudayaan akan berhasil.[3] Pengaruh bahasa terhadap PI dan pemuridan. Bahasa merupakan sarana komunikasi yang efktif bagi pekabaran injil namun, hal ini akan menjadi penghalang jika penginjil tidak mengerti cara berkomunikasi dengan baik. Akan lebih baik penginjil terlebih dahulu memahami bahasa sehinggah penjangkauannya sampai. Bila bahasa adalah saat ini juga sangat bermanfaat, dimana interaksi juga sangat dimudahkan berbagai fasilitas untuk mengerti bahasa satu dengan bahasa lain.
Empati Kita harus menyelami keadaan mereka.Bukan berarti kita setuju dengan mereka, melainkan memahami latar belakang atau sejarah kehidupannya. Jika mereka memiliki keberatan yang kuat tentang Kristus atau mempunyai konsep yang keliru,kita harus mengerti apa yang mereka katakan. Keterampilan berkata-kata, Kita harus tahu dalam berkata – kata bukan hanya apa yang kita katakan ,melainkan kapan kita mengatakannya dan bagaimana kita mengatakannya. Contoh,Rasul Paulus memakai kesaksian pribadinya.Paulus memiliki tekad yang bulat untuk bersaksi(KIS 17:16),Paulus bersaksi setiap waktu(KIS 17:2)dan kapan saja(KIS 17:16-34) Paulus menciptakan untuk bersaksi melalui kata-kata(KIS 17) Bahasa Tubuh Bahasa Tubuh sangat penting dan merupakan sarana komunikasi yang sangat kuat.Ketika kita bersaksi tentang Injil, hendaknya kita tidak menyalurkan gelagat
kemarahan, ketidaksabaran, cemoohan, ataupun kesan sombong, merasa lebih
baik dari orang lain. Memberikan pelayanan Untuk menjangkau masyarakat yang tidak ada biaya untuk pergi berobat, maka diadakan, penyuluhan kesehatan, lewat hal ini kita dapat menceritakan Injil keselamatan.[2] Pembahasan selanjutnya adalah pengaruh budaya local dan barat terhadap pekabaran injil. Pengaruh ini sangat mendorong gerakan percepatan pada bidang penginjilan dengan adanya budaya dari daerah dengan barat menjadi warna yang sangat menarik untuk dikuti dan terus di jalani. Walaupun dalam kenyataanya akan ada sebuah gesekan pada nilai tukar budaya tersebut. Bagaimana dengan saat ini mari kita simak para misionaris perlu mengetahui hal tersebut, agar Injil yang mereka sampaikan itu mudah menembus masyarakat yang akan mereka Injili, pada kenyataannya banyak para misionaris yang berhasil dalam penginjilannya karena mereka menguasai terlebih dahulu daerah maupun masyarakat yang hendak mereka tuju, (Ilmu yang mempelajari hak tersebut adalah Antropologi, dan diberikan sebagai mata kuliah mahasiswa Theologia) sebagai contoh pada saat Injil masuk ke Pulau Nias (Bagian barat Pulau Sumatra) Denninger (missionaris pertama di Nias) mempelajari bahasa dan tata serta cara hidup masyarakat setempat, sehingga penginjilannya di Nias berhasil dan saat ini masyarakat Nias 90% Kristen, inilah bukti bahwa penginjilan berbasis pada penyesuaain kebudayaan akan berhasil.[3] Pengaruh bahasa terhadap PI dan pemuridan. Bahasa merupakan sarana komunikasi yang efktif bagi pekabaran injil namun, hal ini akan menjadi penghalang jika penginjil tidak mengerti cara berkomunikasi dengan baik. Akan lebih baik penginjil terlebih dahulu memahami bahasa sehinggah penjangkauannya sampai. Bila bahasa adalah saat ini juga sangat bermanfaat, dimana interaksi juga sangat dimudahkan berbagai fasilitas untuk mengerti bahasa satu dengan bahasa lain.
Salomo adalah Raja Israel ketiga yang memerintah selama 40
tahun. Akan tetapi, dia adalah raja pertama Israel yang berdasarkan garis
keturunan. Raja Saul dan Daud, seperti para hakim, dipilih karena mereka
dikaruniai Allah suatu kekuasaan khusus: mereka adalah penguasa
berdasarkan karunia. Salomo adalah putra kedua Daud dengan Batsyeba (2 Samuel 12:24). Nabi Natan menyebutnya Yedija,
“kekasih Yahweh“; (yedid = kekasih; ya = Yahweh; 2 Samuel 12:25).
Salomo (sy`lomoh, barangkali berarti damai sejahtera) tidak muncul dalam cerita
Alkitab sebelum saat-saat terakhir pemerintahan Daud (1 Raja-Raja 1:10),
walaupun ia lahir di Yerusalem (2 Samuel 5:14) pada awal
pemerintahan ayahnya. Sebelum Daud mangkat, dia memilih Salomo untuk meneruskan
tonggak pemerintahannya. Meski demikian, perjalanan Salomo menuju takhta
kerajaan tidaklah mulus. Adonia, anak tertua Daud mengadakan perlawanan (2
Samuel 3:4). Ia sangat menginginkan takhta kerajaan Israel menjelang akhir
hidup ayahnya (1 Raja-Raja 1:5). Didukung oleh Yoab, panglima Daud yang sudah
diberhentikan dan yang telah membunuh Absalom (2 Samuel 18:14-15), dan oleh
Abyatar, imam yang berpengaruh, Adonia mengumpulkan dukungan, bahkan mengadakan
pesta pemahkotaan di En-Rogel. Menghadapi hal ini, Salomo yang bersekutu dengan
Benaya, anak Yoyada, dan Zadok tetap
memperjuangkan haknya. Setelah mendapatkan nasihat lagi dari Natan, Daud pun
mengeluarkan perintah untuk mengangkat Salomo naik takhta dan mengesahkannya
dengan sumpah (1 Raja-Raja 1:28). Pada masa mudanya, Salomo hidup saleh seperti
ayahnya, Daud. Dia hidup berkenan di mata Allah hingga Dia memberikan pilihan
kepada Salomo, untuk meminta apa pun yang dia mau (1 Raja-Raja 3:5). Luar
biasa! Dengan mempertimbangkan bahwa dia mendapatkan tugas yang berat sebagai
seorang raja, maka dia meminta agar Tuhan Allah memberikan kepadanya hati yang
paham atau hikmat (1 Raja-Raja 3:9), ketimbang meminta kekayaan dan hal-hal
yang lain. Allah memberikan apa yang dia minta, maka dia bisa memerintah bangsa
Israel yang besar dengan arif, adil, dan bijaksana. Cerita pertengkaran dua
perempuan sundal mengenai bayi mereka (1 Raja-Raja 3:16) merupakan contoh yang
luhur, yang menunjukkan hikmat Salomo. Tuhan telah mengangkatnya menjadi orang
paling berhikmat di seluruh dunia, tidak ada seorang pun yang lahir sebelum
atau sesudah Salomo, yang memiliki hikmat seperti dia. Bahkan, Tuhan
memberkatinya dengan harta kekayaan dan kuasa yang semakin banyak dan luas.
Kebesaran hikmat yang dimiliki Salomo sangat mengagumkan hingga membuat ratu
negeri Syeba datang ke istana Salomo untuk menemuinya (1 Raja-Raja 10:1-13; 2
Tawarikh 9:1-31). Salomo sangat cerdas dalam menjalin hubungan internasional
serta menjaga kekayaan bangsanya dan bebas dari perang. Hubungannya dengan
negara-negara lain (Mesir dan Amon lewat perkawinan, dengan Fenesia dan Arab
lewat perdagangan) juga terjalin dengan sangat baik (1 Raja-Raja 5:45).
Meskipun pada masa pemerintahan Solomo, daerah Edom
dan Damsyik melepaskan diri (1 Raja-Raja 11:14-25), namun kerajaannya tetap
kokoh. Negara kekuasaannya dibagi atas 12 daerah yang secara tetap harus
menjamin penyerahan upeti kepada istana (1 Raja-Raja 4:7-19). Pada masa
pemerintahan Salomo, Bait Allah juga berhasil dibangun. Sayangnya,
pembangunan-pembangunan yang mewah memaksanya mengerahkan kerja paksa bagi
orang Israel maupun bukan Israel. Pembangunan itu tertuju pada pertahanan
negara, istana, dan rumah ibadat. Banyak kota yang diperkuatnya. Ia juga
membentuk pasukan yang menggunakan kereta dan ditarik kuda dan mendirikan
kota-kota garnisun (1 Raja-Raja 9:19; 1 Raja-Raja 10:26). Dengan bimbingan
tenaga ahli dari Fenesia, ia mendirikan istana yang dikelilingi tembok. Di
situlah dia membangun “rumah hutan Libanon”, serambi balai singgasana dan
kenisah baru. Salomo mengambil biaya pembangunannya dari hasil perdagangannya
(1 Raja-Raja 9:26-28), dari bea dan cukai (1 Raja-Raja 12:4), dan dari industri
logamnya. Karya Sastra Selain terkenal sebagai raja yang bijaksana dan
berhikmat, Salomo juga dikenal sebagai salah seorang penulis Alkitab — Kitab
Amsal, Kidung Agung, Pengkhotbah, dan beberapa Mazmur. Bahkan, dia juga menulis
kumpulan 18 Mazmur dari tahun 63 dan 30 sebelum Masehi, kumpulan nyanyian yang
terdiri atas 42 nyanyian berasal dari abad II sesudah Masehi, dan Wasiat dari
abad III atau IV Masehi. Dua kumpulan amsal yang luas yang terdapat dalam Amsal
(Amsal 10:1-22,:16, Amsal 25:1-29:27) dikaitkan kepadanya, dan seluruh kumpulan
amsal itu memakai nama Salomo sebagai penulis utama (Amsal 1:1). Kidung Agung
dan Pengkhotbah mengisyaratkan bahwa Salomo penulisnya, walaupun kitab terakhir
tidak menyebut namanya. Kendati penyusunan terakhir kedua kitab ini agaknya
jauh lebih kemudian dari abad 10 sebelum Masehi, tapi keduanya mengandung
kecermatan, kemuliaan, dan pikiran Salomo. Dua Mazmur (Mazmur 72 mengenai raja
itu; Mazmur 127 tentang hikmat) menggenapkan daftar bagian Alkitab yang
dikaitkan kepadanya. Tak seorang pahlawan pun pada zaman kuno yang begitu luas
dipuja dalam sastra rakyat, kecuali Salomo. Cerita-cerita Yahudi,
Arab, dan Ethiopia tentang kejayaan ilmu dan pengetahuan Salomo, dan tentang
kekuatan-kekuatan gaibnya ada sangat banyak. Sebagai seorang raja, Salomo
bertugas untuk menata, mengembangkan, memperluas, dan menguasai daerah yang
diwariskan Daud kepadanya. Selanjutnya, ia harus melaksanakan peralihan damai
dari perserikatan suku-suku, yang menjadi ciri hidup politik sebelum Raja Daud
ke suatu pemerintahan pusat yang kuat, satu-satunya yang dapat mempertahankan
Kerajaan Israel. Pada masa pemerintahannya, Salomo menetapkan perbatasan
wilayah suku yang awalnya berdasarkan keturunan, kemudian diganti menjadi
wilayah-wilayah administratif: dua belas di Israel (1 Raja-Raja 4:7) dan
mungkin satu di Yehuda. Masing-masing wilayah administratif diwajibkan membayar
pajak guna menjamin pengadaan dana bagi istana Raja Salomo. Kemampuan Salomo
dalam berdagang pun cukup besar. Ia tahu benar betapa pentingnya kedudukan
Israel sebagai jembatan yang menghubungkan Mesir dengan Asia. Oleh karena itu,
ia memanfaatkan kedudukannya itu dengan menguasai jalan kafilah utama dari
Utara ke Selatan. Perjanjian-perjanjian yang mengikat antara dia dengan Hiram,
Raja Tirus, menyediakan armada baginya, yang memungkinkannya memonopoli jalur
pelayaran laut. Namun demikian, Salomo tidak memiliki gerakan militer yang
menonjol. Tanggung jawabnya ialah mempertahankan perbatasan-perbatasan Israel
yang luas itu, memantapkan dan memanfaatkan kekuasaannya selagi tidak ada
kekuatan tandingan karena keruntuhan Mesir dan Asyur. Dua kebijaksanaan utama
politik luar negeri Salomo adalah persekutuan bersahabat yang kadang-kadang
diteguhkan dengan pernikahan dan memiliki tentara raksasa. Kejatuhan Salomo
terjadi karena dia menikahi banyak perempuan asing (Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het). Perkawinannya dengan
perempuan-perempuan asing membawa agama-agama asing, yang diungkapkannya dalam
doa saat menahbiskan dan mempersembahkan Bait Suci kepada Yahweh (1 Raja-Raja
8:23, 1 Raja-Raja 8:27). Keyakinan Raja Salomo menjadi luntur akibat mengikuti
sinkretisme untuk menyenangkan hati para istrinya. Parahnya lagi, karena
pengaruh istri-istrinya itu, dia akhirnya meninggalkan Tuhan Allah dan
mengikuti ilah-ilah yang disembah istri-istrinya itu. Salomo mengikuti
Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang
Amon. Bahkan, Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak
dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. Dia juga mendirikan
bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa
kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon.
Demikianlah ia melakukannya bagi semua istrinya, orang-orang asing itu, yang
mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka.
Karena sikapnya inilah, Tuhan Allah murka terhadap Salomo. Banyak lawan yang
bangkit untuk menentangnya. Kerajaannya pun terkoyak. Salomo memerintah selama
40 tahun, dia digantikan oleh anaknya, Yerobeam. Sementara perihal kapan Salomo
meninggal tidak diketahui dengan pasti.
Sumber: Bio-Kristi 97. Posted by papoesetnic on 29 Agustus 2013
[1]
Prof. Dr. P.D. Latuhamallo, Kewarganegaraan yang
Bertanggungjawab 1995, Beberapa Catatan Tentang Relasi Gereja dan Negara, © 2011 Copyright Institut Leimena. All
Rights Reserved.
[2]BERNATH HUTAGAOL , PENGINJILAN KONTEKSTUAL TERHADAP SUKU SUNDA , 23 September 2013, Misi Penginjilan.
[3] Dermawan laoli, Pengaruh injil terhada
p
kebudayan, 30 desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar