Selasa, 18 April 2017

meringkas buku Leon Morris






MEMBACA DAN MERINGKAS PIKIRAN POKOK BUKU
TEOLOGI PERJANJIAN BARU
LEON MORRIS


Pendahuluan.
            Meskipun Teologi Perjanjian Baru menjadi judul begitu banyak buku, arti sebenarnya dari Teologi Perjanjian Baru masih sangat tidak jelas. Sebagian dari penyebab kekaburan tersebut adalah kerancuan dalam pemakaian istilah Teologi. Tujuan penulisan buku ini adalah memberikan suatu pengantar yang ringkas tetapi padat tentang Teologi Perjanjian Baru.
Judul Buku                  : Teologi Perjanjian Baru
Penulis                         :Leon Morris
Penerbit                       :Gandung Mas
Ketebalan Buku          : 506 halaman.
Bagian Pertama: 1. Tulisan-Tulisan Paulus.
Paulus seorang yang sangat berbakat. Karya pelayanannya yang sanagat luas dan efektif menjadi lebih mudah oleh karena ia akrab dengan dua dunia, yaitu dengan dunia agama Yahudi dan dunia Helenisme(mungkin kita perlu menambahkan satu dunia lagi, yakni  dunia Romawi).
Paulus seorang Israel dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin(Roma 11:1 bdk II Korintus 11:22), suatu hal yang jelas dia banggakan. Mengenai keturunan lahiriah serta prestasinya ia dapat menulis demikian, “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hokum taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam menaati hokum Taurat aku tidak bercacat.(Filipi 3:4-6). Lain sekali degan caranya menghadapi tulisan-tulisan Yunani. Jelas, karena Paulus menguasai bahasa Yunani, maka semua harta pusaka Yunani terbuka baginya. Namun, dalam semua tulisannya hanya dua kali ia mengutip penulisan Yunani(I Korintus 15:33, Titus 1:12, Lukasmengungkapkan satu kutipan lagi, yakni dalam salah satu kotbah, kisah 17:28).
Paulus mengindentifikasikan dirinya dengan Israel. Bahkan dalam tulisan-tulisannya kepada orang-orang bukan Yahudi ia menyebut Abraham “bapa leluhur jasmani kita” dan Isak “bapa leluhur jasmani kita”(Roma 4:1, 9:10) dan mengacu pada nenek moyang kita semua”(I Korintu 10:1). Dia mengharapkan damai turun atas “Israel milik Allah”(Galatia 6:16).
Meskipun ia seorang Yahudi, Paulus membuktikan bahwa ia dipanggil untuk berkerja terutama ditengah bangsa-bangsa lain didunia ini. Ia adalah rasul bagi orang-orang bukan Yahudi(Roma 11:13) pelayanan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi” (Roma 11:13), ia dipanggil untuk memberitakan Kristus diantara orang-orang yahudi(Galatia 1:16, Efesus 3:8). Latar belakang yang kompleks ini mempersulit studi kita tentang tulisan-tulisan Paulus. Begitu juga gaya sastra yang dipakai rasul itu. Dia suka tergesa-gesa, sehingga sering tidak menyelesaikan kata-katanya yang dia berharap akan disi sendiri oleh para pembacanya(dan yang para pembaca berharap dapat mengisinya dngan tepat!).
Dia seorang pemikir orisinal dan kadang-kadang dia harus berjuang untuk menemukan bahasa yang tepat untuk mengungkapkan halhal yang sebelumnya belum dikatakan orang lain. Hal ini menambah kesulitan kita tetapi sekaligus membuat penyelidikan kita ini semakin berharga. Teologi Paulus sangat padat dan mendalam dan sudah terbentuk sejak dini sekali. Tulisannya merupakan bukti yang kuat bahwa pandangan Kristiani yang pokok sudah terbentuk secara kokoh sebelum pertengahan abad pertama, kurang dari 20 tahun sejak Yesus mati.
Allah Sebagai Pusat Segalanya.
            Paulus menaruh perhatian yang amat besar kepada Allah. Biasanya kita menganggap pasti bahwa sesorang penulis PB akan menulis tentang Allah dan anggapan ini tidak keliru. Paulus mengacu pada Allah jauh lebih sering daripada penulisan PB mana pun. Paulus seorang yang tergila-gila pada Allah dan ia selalu berbicara tentang Dia yang menjadi pusat pemikirannya. Ia mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas kehidupan kita dalam semua aspeknya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari pengalaman kita yang dapat kita anggap tidak ada hubungannya dengan Allah. Bagi Paulus, Allah itu penting dimana-mana pada masa sekarang, dan ia menantikan dengan penuh harapan kedatangan zaman itu ketika Allah menjadi “semua didalam semua”(I Korintus 15:28).
            Yesus Kristus Tuhan Kita.
             Paulus sering menggunakan nama Kristus. Tentu saja kata Kristus adalah tranliterasi sebuah kata Yunani yang berarti diurapi, sama seperti mesias adalah transliterasi kata ibrani dengan arti yang sama. Namun lambat laun muncullah gagasan bahwa pada suatu hari akan tampil tidak hanya seorang yang diurapi melainkan orang tertentu yang diurapi, orang yang akan melaksanakan kehendak Allah secara istimewa. Ungkapan mesias itu sendiri jarang muncul dalam PL(Daniel 9:25-26). Yesus sang manusia, Paulus mengenalkan ajaran Yesus dengan cukup baik, sehingga ia bias mengutip berapa ucapanNya(I Korintus7:10, 9:14). Ia sadar juga bahwa ada beberapa hal yang tentangnya yesus tidak berkata apa-apa(I Korintus 7:12). Paulus ingin banyak berbicara mengenai kasih Allah, karena Kristus begitu erat dikaitan dengan Allah, maka tidak mengherankan kalau ia menulis juga tentang kasih Kristus. Hal ini benar terutama karena Paulus melihat salib kristus sebagai sesuatu yang amat penting, salib tempat Kristus mati demi kasihNya kepada umat manusia yang berdosa.
Karya Keselamatan Allah Dalam Kristus.
Hal ini tidak berarti bahwa Paulus memikirkan semua itu dari awan-awan. Dia bukanlah seorang teoretikus yang tidak praktis dan masa yang lalu ketika ia belum menjadi seorang Kristen, Paulus sudah merasa puas akan kedudukanya(filipi 3:4-6). Dengan perjumpaan itu dia memulai suatu cara hidup yang sama sekali baru. Masuknya Yesus kedalam dunia ini bertujuan memenuhi kebutuhan kita dan kematian Yesus  menduduki tempat sentral semuanya itu. (I Korintus 1:23). Kita semua orang berdosa yang membutuhkan penebusan. Kita telah gagal untuk brbuat yang baik dan yang termulia yang kita ketahui.
Penghakiman.
Penghakiman yang berlangsung di sini dan yang akan datang akan berlangsung dalam skala terbesarnya pada akhir zaman. Dia adalah Tuhan hakim yang adil yang akan menganugrahkan makhota kebenaran pada hari penghakiman(II Timotius 4:8). Allah akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati mausia, oleh Kristus Yesus(Roma 2:16) Tuhan akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang irencanakan didalam hati(I Korintus 4:5).
Dunia yang Jahat sekarang Ini.
Paulus melihat sejumlah factor lain yang mempersulit hidup manusia didalam apa yang disebut dunia jahat yang sekarang ini. Paulus tidak terang-terangan mengatakanya namum yang dia maksudkan pastilah bahwa jatuhnya manusia kedalam dosa membawa dampak bagi seluruh ciptaan, tentu saja terutama bagi manusia, tetapi dalam batas tertentu juga bagi segala sesuatu yang lain. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa Paulus mengacu pada makhluk-makhluk semacam ini, ketika ia berbicara tentang perbudakan kepada roh-roh dunia(Galatia 4:3). Gagasan mengenai roh-roh jahat tidaklah lazim pada zaman kita, meskipun akhir-akhir ini banyak orang mengakui adanya roh-roh jahat itu. Tidak dapat disangka bahwa kejahatan meresapi banyak aspek kehidupan modern. Sungguh suatu fakta yang mengherankandan menyedihkan bahwa manusia yang berperadaban tinggi menimbulkan kengerian-kengerian yang lebih hebat daripada orang barbar. Kengerian karena bom atom, perang kimia, kelaparan masyaraat, belum lagi berbagai politik dagang dari Negara-negara kaya yang membuat angka penangguran.
Hidup Dalam Roh.
Bukanlah suatu pendapat yang asing bagi orang-orang zaman dulu bahwa kadang-kadang roh ilahi dating kedunia ini dan menguasai orang-orang beribadah. Dari sebab itu orang akan mengerti jika orang-orang Kristen berbicara mengenai roh yang ada dalam diri orang beriman.(Roma 8:9, 11:1, Korintus 3:16). Ada dua perbedaan yang penting dalam cara orang Kristen memahami Roh tersebut. Perbedaan pertama muncul dari kenyataan bahwa orang-orang kuno pada umunnya mnganggap roh ilahi itu hanya turun atas segelintir orang yang termuka. Peristiwa tersebut merupakan suatu pengalaman paling luar biasa, yang hanya berlaku untuk mereka yang dekat sekali dengan dewa-dewa. Akan tetapi, orang-orang Kristen menandaskan bahwa semua orang yang percaya memiliki roh itu. Maka Paulus bias berkata secara positif, semua orang yang dipimpin roh Allah, adalah anak Allah.(Roma 8:14).
Sakramen-sakramen.
Paulus tidak begitu sering membicarakan kedua ketetapan sakramen yang berabad-abad lamanya mempunyai arti penting sekali bagi gereja. Ia mewartakan kepada kita bahwa dlama satu roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh (I korintus 12:13), sehingga  menjadi jelas bahwa yang pentingadalah apa yang dikerjakan oleh roh. Begitu pentingnya hal ini, sampai-sampai ada sementara penafsir yang berpendapat bahwa Paulus tidak sama sekali membicarakan baptisan dengan air. Ia memakai istilah dibaptis dalamarti kiasan(Matius 3:11). Mereka sering mempertentangkan baptisan dalam roh dengan baptisan dalam air tanpa memperhatikan fakta bahwa PB sendiri tidak pernah membuat pembedaan semacam itu. Paulus berfikir tentang baptisan dengan air dan yang mau dia katakana adalah bahwa roh kuduslah yang membuat orang beriman menjadi anggota jemaat, bukan pengunaan air, rohlah yang mempersatukan kita semua.
Bagian kedua: 2. Kitab-kitab Injil Sinoptis dan Kisah Para Rasul.
            Sekarang kita mengalihkan perhatian kita pada kitab-kitab Injil. Saya lebih suka membicarakan kitab injil satu demi satu. Ini memungkinkan kita untuk melihat tidak hanya apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh Yesus, tetapi juga bagaiman masing-masing penginjil memahami ucapan dan tindakan-tindakanNya itu.
            Pada bagian ini kita akan melihat ketiga Injil Sinoptis dan Kisah Para Rasul, sebab kitab ini merupakan  bagian karya Lukas yang dua jilid itu. dengan mengadakan studi demikian, saya sadar akan kenyataan bahwa tanpa Yesus tidak aka nada agama Kristen, tidak ada injil, tidak ada kitab-kitab injil! Sudah menjadi ajaran umum para penulis PB bahwa Allah telah mengerjakan sesuatu yang unik dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, dan bahwa sesuatu yang unik itu merupakan hal yang paling penting yang pernah terjadi.
            Injil Markus.
            Markus menulis tentang sesuatu yang telah dikerjakan sendiri oleh Allah. Dan Yesuslah yang memberitakan kepada kita tentang kabar baik dari Allah. Injil bukanlah sesuatuyang sudah jelas atau bagian dari pengetahuan umum yang dimiliki oleh kaum beragama. Markus mengetahui bahwa itu merupakan kabar baik karena Yesus telah membawanya dari Allah. Kalau Allah mempunyai kabar baik untuk kita, maka penting bahwa kita memberikan tanggapan yang sepantasnya.
            Dengan mengingat apa yang telah dikerjakan Allah dan yang akan dikerjakanNya. Yesus menantang orang-orang memberi tanggapan mereka harus bertobat dan percaya. Bertobat berarti menerima kenyataaan bahwa kita telah melakukan apa yang seharusnya tidak boleh kita lakukandan melailaikan apa yang seharusnya kita lakukan. Namun yang paling penting dari semuanya ini adalah penekanan Markus pada kematian Yesus. Ini antara lain karena adanya nubuat-nubuat Yesus. Yesus mengatakan bahwa Ia akan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan para ahli taurat, dan Ia menubutkan juga kematianNya.(markus 8:31, 9:31, 10:33-34). Markus mengkhususkan kira-kira seperlima dari injilnya untuk mengisahkan kematian dan kebangkitan Kristus.
            Injil Matius.
            Matius menaruh rasa hormat yang besar. Oleh karena itu ia menghilangkan ayat-ayat tentang kemarahan Yesus dan ia tidak mencantumkan tuduhan bahwa Yesus itu tidak waras lagi(markus 3:21). Matius menjelaskan bahwa Yesus mempunyai arti penting bagi kedua belas rasul, bahwa Allah membimbing umatNya kadang-kadang melalui mimpi dan Allah melakukan hal-hal tertentu dalam alam jasmaniah ini sewaktu Ia melaksanakan rencanaNya. Bagi Matius, seperti bagi penginjil lainnya, inti dari kekristenan adalah injil bukan hokum taurat. Namum Matius pasti menaruh minat pada pentingnya ajaran Yesus. Orang-orang  bertobat tidak hanya harus dibaptis, melainkan juga diajar untuk melaksanakan semua perintah Yesus. (Matius 28:20). Dari apa yang ditulis Matius dan cara dia menulisnya, G. D. Kilpatrick menyimpulkan bahwa Matius adalah seorang ahli taurat Kristen.
            Injil Lukas dan Kisah Para Rasul: Doktrin Tentang Allah.
            Pada umunya orang sepakat bahawa pengarang yang sama telah menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Ini menjadikan pengarang tersebut seorang tokoh yang amat penting dalam studi PB sebab keduanya tulisan bersama-sama merupakan lebih dari seperempat bagian PB secara keseluruhan.sudah menjadi keyakianan banyak orang sepanjang sejarah gereja bahwa pengarang kedua karya ini adalah Lukas, dan  tidak ada alasan kuat untuk meragukan hal ini, meskipun tidaklah begitu penting siapakah persisnya pengarang tersebut.
            Perhatian khusus Lukas pada tema kerajaan nyata juga dalam cara Lukas mengawali kisah pemberian makan lima ribu orang. Matius menyatakan rasa belas kasihan Yesus dan penyembuhan orang sakit olehNya(matius 14:13-14). Lukas juga menunjukan kepada kita bahwa kerajaan itu mempunyai aspek masa depan yang penting dan itu tergantung pada kedatangan Kristus kembali. Dari semua uraian ini menjadi jelas bahwa Lukas memandang amat serius kekuasaan Allah. Jelas ia sangat menghargai apa yang dikatakan Yesus tentang kerajaan itu dan ia menunjukan bahwa Yesus sering dan secara berarti mengajarkan tentang kerajaan Allah dan bahwa pengajaran it berlangsung terus dalam jemaat mula-mula. Bahwa Allah memerintah dan bahwa pada pengenapan waktu Ia akan menghadirkan kerajaanNya secara penuh merupakan bagian penting dari pengertian kristiani mengenai berbagai hal.
            Injil Lukas  dan Kisah Para Rasul: Doktrin tentang Kristus.
            Lukas memang mencatat beberapa peristiwa dari masa kanak-kanak Yesus, dan ia mencatat kenyataan bahwa anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah padaNya(lukas 2:40). Bagi Lukas gelar Kristus itu penting untuk pemahamanya tentang karya Allah melalui Yesus. Memang gelar itu bukanlah gelar yang paling sering dipakainya, namun ada semntara ahli yang memandangnya sebagai gelar yang paling penting. Hanya Lukas yang mengisahkan bahwa dari gelar inilah para pengikut Yesus mendapat sebutan khusus “kristen”(kis 11:26 bdk 26:28). Sejak awal penulisanya Lukas mempergunakan gelar tersebut, yaitu ketika ia membeitahu para pembaca bahwa malaikat  berkata kepada gembala tentang kelahiran juruselamat, yaitu Kristus Tuhan. Lukas sering menggunakan nama Kristus pada zaman dahulu nama jauh lebih berarti ketimbang pada zaman kita sekarang. Dalam beberapa hal nama menyimpulkan seluruh kepribadian pemiliknya, dan ini memberi arti yang jauh lebih luas kepada “nama Kristus”. Kalau orang dibaptis dalam nama ini (Kisah 2:38, 10:48, 19:5) paling tidak itu berarti bahwa orang yang dibaptis benar-benar berjanji untuk hidup menurut teladan Kristus. Ini merupakan ungkapan iman dan loyalitas.
Injil Lukas  dan Kisah Para Rasul: Doktrin tentang Keselamatan dari Allah kita.
Seperti para penginjil lain, dan dala hal ini juga semua penulis PB lainnya, Lukas berusaha menerangkan kebenaran agung bahwa Allah telah mendatangkan keselamatan bagi bangsa yang tidak layak menerimanya. Akan tetapi Lukas mempunyai cara khas dalam menyampaikan hal ini. Dialah satu-satunya orang yang menulis Injil dan suatu kisah Para Rasul, dan tak satu pun dari keduanya boleh kita abaikan.
Injil Lukas mengisahkan kepada kita apa yang dibuat dan diajarkan oleh Yesus. Selanjutnya Injil itu mengisahkan bagaimana Yesus dikhianati, dan diserahkan kepada orang-orang Roma oleh para pemimpin bangsaNya, bagaimana Ia disalibkan, dikuburkan, bagaimana Ia bangkit dan menyampaikan nasehat-nasehat kepada para pengikutNya. Mengapa ia begitu menekankan penderitaan dan kematian Yesus? Past satu-satunya makna yang ia berikan kepada hal-hal ini adalah makna soteriologis. Misalnya, ia tidak mengambarkan Yesus sebagai martir. Karena, ia membuat sebuah pernyataan mengenai makna kematiaan Kristus dan ia meyediakan tempat yang amat luas untuk mengisahkannya. Kalvari mempunyai arti lebih dari pada sekedar ditolaknya seorang yang baik dan saleh saja. Kematian itu merupakan cara Allah memberikan keselamatan bagi orang berdosa.
Injil Lukas  dan Kisah Para Rasul: Doktrin Tentang Roh Kudus.
Lukas banyak berbicara tentang Roh Kudus. Ia mengunakan kata pneuma sebanyak 36 kali. Lukas mengawali tema ini sejak awal kali, yakni sejak malaikat menyampaikan pesan kepada Zakharia bahwa anak yang dilahirkan baginya akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari Rahim ibunya(1:15). Tak ada bagian hidup Yohanes Pembatis yang dijalannya tanpa kehadiran Roh. Kedua orang tua Yohanes Pembatis dikatakan “penuh dengan Roh Kudus”.  Sebelum Yesus mengawali pelayananNya didepan public Yohanes pembatis membandingkan pelayananya dengan pelayanan Oknum agung yang akan dating itu dengan mengatakan bahwa kalau dia Yohanes, membaptis dngan air, maka Oknum yang lain tersebut akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Lukas menekankan peranan Roh dalam kisah tentang pencobaan, ketika pencobaan telah berakhir dalam kuasa Roh kembalilah Yesus Galilea(4:14). Bagi Lukas peristiwa pada hari Pentakosta itu amat penting. Ia mencatat kata-kata Yesus bahwa Bapa surgawi akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya.(11:13). Kehadiran roh benar-benar nyata dalam kisah perginya Paulus ke yerusalem sesudah Paulus menyelesaikan tugasnya di Efesus.
Injil Lukas  dan Kisah Para Rasul: Doktrin Kemuridan.
            Beberapa ajaran Yesus tentang kemuridan sebagian besar terdapat pada Injil Lukas saja(114:25-33, Mat 10:37-38 pararel dengan ayat 26-27) disini kita menjumpai kata yang sulit mengenai tidak mungkinya menjadi sesorang murid, kecuali kalau orang membenci sanak-keluarga yang terdekat, salah satu pernyataan yang paling tak mengenal kompromi sehubungan dengan kerajaan Allah dalam perjanjian baru.
Bagian Ketiga: 3. Tulisan-Tulisan Yohanes.
Salah satu persoalan yang amat sulit dalam perjanjian baru timbul dari tulisan-tulisan Yohanes. Hal ini harus dianggap sebagai kemungkinan yang sangat nyata, siapapun penulis karya-karya ini tentu ia menulis untuk orang-orang yang menaruh minat pada tulisannya dan tidak ada alas an mengapa kita tidak boleh berfikir mengenai satu komunitas yang memiliki paham-paham yang serupa satu sama lain dan yang bercirikan paham Yohanes. Kelompok ahli lainnya mengakui ada perbedaan gaya  tersebut, tetapi mereka mengatakan bahwa kita tidak  tahu seberapa besar peranan yang dimainkan oleh juru tulis dalam dokumen-dokumen abad pertama.
Injil Yohanes: Doktrin Kristus.
Orang sepakat bahwa injil keempat merupakan salah satu kitab yang amat penting yang pernah ditulis orang. Namun sebagai titik awal yang baik adalah pembukaan Injil itu sendiri Yesus. Kitab ini di awali dengan pada mulanya adalah firman(1:1) dan menjelang akhir kitab sang pengarang memberi tahu kita mengapa ia menulis semua yang tercantum disini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah mesias, anak Allah….(20:31). Ini adalah kitab mengenai Yesus. Hal ini diteguhkan oleh kenyataan bahwa Yohanes mengunakan nama Yesus sebanyak 237 kali.
Firman. Dalam prolognya Yohanes menyebut Yesus “Firman” sebanyak empat kali suatu sebutan yang tidak muncul lagi dalam sejarah Injilnya. Kita memakai istilah kata(=Firman) untuk menyebut satu satuan bahasa,  entah lisan atau tulisan, akan tetapi orang Yunani memberi kata tersebut makna yang jauh lebih luas. Mereka mengadakan pembedaan anatara logos prophorikos, yakni kata yang keluar dari sesorang. Dan logos endiathetos, kata yang tetap tinggal pada sesorang. Logos endiathetos berarti sesuatu yang mirip sekali dengan nalar. Oleh karena mereka yang berfikir tentang adanya lgos, Firman, yang meliputi alam semesta, sesuatu yang menyerupai “jiwa dunia”. Ada berbagi pemikiran serupa mengenai Firman, yang didasarkan pada ayat-ayat seperti yang kit abaca, Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan(Maz 33:6).
Injil Yohanes: Doktrin Allah Sang Bapa.
Dalam banyak hal Bapa dan Anak dngan cara tertentu dikaitkan satu sama lain. Yohanes memang berbicara tentang apa yang sedang dikerjakan bapa atau siapakah bapa itu, atau tentang hubungan bapa dengan manusia. Namun istilah bapa memperoleh maknanya yang paling dalam kalau dihubungkan dengan Kristus. Dalam pengutusan sang anak dan dalam apa yang dikerjakanNya  melalui sang anaklah kita bias mengerti apa artinya bahwa allah adalah bapa.
Injil Yohanes: Doktrin Allah Roh Kudus.
Yohanesmenyajikan beberapa ajaran yang amat penting mengenai Roh Kudus, Ia emulai kesaksian Yohanes Pembatis yang melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal diatasNya(1:32). Sebagai roh kebenaran, roh akan membimbing para murid kepada(atau kedalam)seluruh kebenaran(16:13). Kebenaran ini bukanlah suatu konsepsi filsafat, melainkan kebenaran yang dinyatakan dalam Yesus. Roh akan membimbing mereka sehingga mereka semakin memahami makna kebenaran itu.
Injil Yohanes: Doktrin Hidup Kristen
Yohanes menaruh perhatian yang cukup besar pada cara kita memasuki hidup baru yang dimungkinkan oleh karya Allah dalam diri Kristus. Ia menaruh perhatian juga pada segala yang diperlukan kalau kita mulai menghayati hidup Kristen. Hidup merupakan konsepsi dasar dalam seluruh tulisan Yohanes.
Yohanes juga memakai kata kerja hidup sebanyak tujuh belas kali. Jelas bahwa Yohanes biasa tetapi sering menaruh minat pada hidup sebagai konsepsi Kristen. Daam injilnya ia berbicara tentang hidup kekal. Namun rupanya tidak konsisten dalam membedakan hidup dengan hidup kekal.
Surat-Surat Yohanes.
Allah Bapa.
Allah sangat dominan dalam surat-surat ini kata Allah dipakai enam puluh tujuh kali dan bapa delapan belas kali. Kata ini merunjuk pada Allah. Begitu sering nya disebut dalam tulisan yang pendek . ada dua hal yang secara khusus digaris bawahi, yakni hubungan Allah dengan umatNya. Berulang kali disebutkan “anak Allah”. Bagi penulis surat ini, sangatlah penting bahwa kita mengetahui hubungan Yesus dengan Bapa.
Wahyu Yohanes.
Kebanyakan orang Kristen mereka merasa kitab wahyu itu kitab yang sulit, karena didalamnya ada penglijhatan-pengelihatan yang hidup, binatang-binatang yang aneh, dan rangkaian materai, sangkakala an cawan dan juga ada simbolisme yang tak lazim.
Yohanes mengawali kitabnya dengan inilah wahyu(apokalypsis) Yesus Kristus dan dari sinilah kita memperoleh kata apokaliptis. Yohanes menulis untuk suatu jemaat kecil yang sedang dianiaya, yang mempunyai resiko menjadi kecewa. Kitab Yohanes ditulis untuk sekelompok kecil orang Kristen yang menjadi bingung karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Bagian Ke empat: 4. Surat-Surat Umum.
            Sekarang kita membahas kelompok tulisan yang biasanya surat-surat katolik atau umum. Surat kepada orang Ibrani merupakan surat yang paling panjang diantara tulisan-tulisan ini dan harus dianggap tulisan yang paling penting dalam Perjanjian Baru.
            Surat kepada Orang Ibrani.
            Surat ini jelas berbeda dengan semua tulisan Perjanjian Baru lainnya. Secara konsisten surat ini membicarakan persoalan-persoalan orang Yahudi dan pandanganya tentang Yesus sebagai Iman besar Agung tidak dapat ditempat lain. Allah yang Agung  ia mengenal Allah sebagai yang maha agung, yang menciptakan segala sesuatu ada. Dia adalah hakim semua orang. Ajaran tentang penghakiman abadi merupakan jaran asas-asas pertama dari ajaran tentang kristus.
            Surat Yakobus.
            Yakobus adalah seorang monoteis ia melihat Allah aktif berkerja. Ciri khas surat Yakobus adalah penekannya yang kuat pada cara hidup yang benar.
            Surat pertama Petrus dan surat kedua Petrus
            Menjadi orang Kristen pada abad pertama memang tidak pernah mudah, tetapi ada waktu-waktu tertentu ketika hal itu sangat sukar. Orang-orang Kristen kemungkinan menderita hanya karena berbuat baik. Namun tidak ada kelebihan apa-apa. Rasul ini sangat menghargai kehidupan orang-orang Kristen sebagai satu kesatuan. Penulis menasehati semuanya ini dengan sangat, karena tidak ada keraguan sedikit pun tentang kenyataan-kenyataan yang mendasari Iman mereka.
            Surat Yudas.
            Pada umunya paraahli berpendapat surat Yudas ditulis lebih dahulu, dan bahwa II petrus bergantung pada surat Yudas. Sebenarnya Yudas ingin menulis tentang keselamatan(ayat3), tetapi karena kebutuhan-kebutuhan yang mendesak saat itu maka ia terpaksa menangani situasi saat itu. maka ia lau bebicara tentang penghakiamn Allah atas orang-orang berdosa

Kritikan buku TeologiPerjanjian Baru oleh Leon Moris.
Kelebihan Buku          : Bahasa yang digunakan sederhana, mudah dipahami. Penjabaranya sangat menarik karena penjabaranya luas. Mudah untuk jadi modal pemahaman akan dunia Teolog dan Pelayanan.
Kekurangan Buku       :Banyak penjabaran yang diulang.     

sejarah gereja Indonesia




Mempelajari sejarah gereja Indonesia maka akan menemukan kegagalan dan keberhasilan yang telah terlewatkan, namun masih dapat menjadi acuan pembelajaran untuk memperbaiki sejarah gereja Indonesia dikemudian hari, sehingga hal-hal yang salah pada masa  lalu akan menjadi modal utama membangun kembali strategi yang baik untuk kemajuaan gereja dan akan menjadi catatan khusus, mengingat jejak rekam yang lalu dengan yang sekarang maka, Study Komperatif Masa Lalu dengan Masa Kini menjadi hal penting. Dimulai dengan adanya Semangat dalam pekabaran injil orang luar Negri.
Sejak dahulu semangat dalam pekabaran injil orang luar negri ini tak terlepas dari salah satu contoh pengaruh perdagangan yang dilakukan oleh VOC(Belanda), dan dari pelbagi negara yang pada saat itu masuk ke Indonesia dengan maksud menjajah pada daerah-daerah yang menjadi basis penjajahan mereka. Sehingga dalam melakukan penjajahan mereka juga melakukan pekabaran injil. Tak heran semangat ini menimbulkan harapan bagi sebagaiian mereka yang pada saat itu terkena jajahan.
Ada diantara mereka merebah pada sektor pendidikan dengan tujuan mereka didik untuk mengenal dan mengetahui kristus. Ajaran mereka juga sering dikonotasikan pada agama jajahan sehinggah hal ini mempengaruhi semangat mereka, bukan justru sebaliknya, maka tak heran mereka para pekabaran injil mau membayar mahal segalanya demi kabar dapat diterima pelbagai lapisan. Para pekabar injil rela meninggalkan kampung halamanya, lalu mereka pergi berlayar untuk satu tujuan supaya tegaknya kabar injil didaerah itu. Tak asing lagi bagi mereka harus kehilangan profesi asli mereka, meninggalkan orang yang mereka kasihi, hanya untuk mendidikasi waktu, tenaga, bahkan merogoh kantong pribadi mereka demi injil ada di daerah itu.
Bahkan ada sejarah yang mencatat mereka para pekabar injil harus rela mati diwilayah itu demi masuk nya injil. Semangat ini lah yang menjadi pioner mereka untuk menambah jumlah mereka. Bila dilihat dari segi pengorbanan mereka tak ayal mereka adalah orang-orang militan yang rela mati demi injil hidup diwilayah itu. Usaha pekabaran Injil yang berlaku di daerah itu memiliki keistimewaanya sendiri. Sifat keistimewahan inilah yang mampu mendukung kunikan pada pekabar tersebut yang mampu menarik perhatiaan bagi masyarakat yang belum mengenal injil.
Hal Pertama-pertama kita akan melihat pekabaran injil yang terjadi didaerah Tapanuli. Di daerah Tapanuli terjadi perkabaran injil dimulai dengan adanya kerja sama dan menurut suatau rencana yang tetap. Dimulai dengan adanya acara konfersi para pekabaran injil diSipiriok. Mereka sepakat didalam langkah-langkah mereka. Bukan seperti didaerah-daerah lain, setiap para pekabar menjalankan ikhtiarnya masing-masing, melainkan usaha mereka disitu terjadi karena kata sepakat. Disisi lain perhimpunan RMG di Jerman memberi dukungan sepenuhnya untuk melaksanakan pengkristenan di Tapanuli sebagimana semestinya. Selain bersifat dukungan adanya juga penambahan utusan pekabara injil yang menambah  jumlah para pekabar
  Bila melihat yang terjadi didaerah Tapanuli bahwa pekabaran injil ini dapat berjalan karena usaha dan kesepakatan maka dapat disimpulkan semangat pekabaran injil diera saat ini juga dapat mencontoh cara yang dilakukan para era dahulu. Dimana para pekabaar memiliki usaha-usaha agar kabar injil itu dapat diterima oleh masyarakat. Cara-cara penginjilan atau pekabaran ini juga pasti memiliki metode-metode yang belum sempurna, maka untuk kita saat ini dibutuhkan metode seperti buku tanpa kata, buku-buku panduan yang mengajarkan banyak tentang pekabaran injil.
Bila dari Jerman ada perhimpunan yang mendukung pekabaran injil untuk Indonesia, maka era saat ini Indonesia harus memiliki perhimpunan atau sekelompok organisasi yang berbadan misi untuk penginjilan didaerah suku-suku yang belum tersentuh injil. Dengan selalu mendukung melalui doa, dana, dan memberi motivasi bagi para pekabar injil, sehingga semangat itu dapat tertular bagi orang lain. Seperti yang dilakukan oleh penginjilan online Indonesia, mereka membuat begitu simpel, menarik, namun untuk proses tindak lanjut tidak ada, kekurangan ini seharusnya segera diperbaruhi, sehingga apa yang sudah mereka lakukan tidak terbuang sia-sia. Bila yang mereka lakukan adalah membuat sebuah vidio yang berdurasi 3-5 menit, lalu vidieo mereka buat di bagikan ke pelbagi dunia maya itu hanya mengundang simpati, walaupun ada juga yang tersentuh namun hal itu sangat sedikit. Ada baiknya bila semangat dalam penginjilan dunia maya dilanjutkan pada target yang langsung dilanjutkan, sehingga mereka yang menjadi target dapat terlihat buahnya, apakah orang itu benar sudah memahami, atau hanya sekedar menonton, lalu melupakan begitu saja. Dibutuhkan team lagi yang mampu mementoring orang yang telah menonton video penginjilan, disinilah akan terlihat sebuah pengorbanan seorang penginjil, dan semangatnya akan mampu jadi teladan, sehingga menciptakan generasi yang juga memiliki bidang misi penginjilan.
Semangat dalam pekabaran injil saat ini juga terus membawa banyak orang asing sampai saat ini terlibat dalam misi penginjilan, mereka adalah salah satu contohnya para pekabaran injil dari korea yang membuat suatau tujuan perjalanan mereka dengan alasan memberi pengobatan, namun yang mereka lakukan menjadi pelaku-pelaku injil diwilayah yang telah mereka tetapkan sebagai wadah injil. Keikutan serta mereka memberikan kesehatan gratis mampu mengubah paradigma seseorang bahwa apa yang dilakukan orang kristen bukanlah yang selalu jahat, namun mendatangkan kebaikan. Ada pula dengan alasan mereka membagun perusahaan di Indonesia dengan tujuan itu mampu memberikan izin bagi mereka tinggal, padahal mereka lakukan adalah tetap semangat pekabaran injil itu sendiri.
Sejalan hal ini mereka juga bergerak mengerjakan para pekerjanya yang dari luar kristen, dengan tujuan bahwa perusahan yang mereka pimpin itu tidak menjadi batu sandungan, namun memampukan mereka untuk menjalin kebersaaman yang saling menguntungkan. Dapat dibayangkan bila perusahan mereka mengerjakan orang bukan kristen, maka orang yang bukan kristen akan melihat langsung apa yang terjadi, bila hal ini berkelanjutan maka, akan berdamapak pada sektor perusahan mereka maju dan membuat masa mereka tinggal jadi panjang.
 Hal inilah berdampak saling menguntungkan. Adapun dampak  negatif yang mereka buat adalah tidak adanya meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya, sehingga semangat pelayanan tadi berubah kearah keuntungan pribadi. Perubahan ini cepat atau lambat akan mempengaruhi bagi dampak relasi pemerintah gereja terhadap pertumbuhan pekabar injil gereja/ PI. Sekilas saja dalam hubungan relasi yang terjadi pada masa dahulu begitu baik-baik dimana hubungan ini berdampak pada kemajuan yang terjadi pada pekabaran injil itu. Tidak adanya masalah yang muncul pada jaman dahulu, walaupun sempat adanya persaingan diantara para pekabar injil namun, hal itu tidak menjadi masalah besar. Bila hal ini baik maka pada saat ini relasi pemerintah gereja terhadap pertumbuhan gereja/PI sebagai berikut.
Situasi Indonesia.
Beberapa buah pikiran di atas yang muncul sebagai akibat dari ucapan Dr. Leimena mengajak kita untuk menghadapi keadaan konkrit, yakni relasi Gereja dan Negara di Indonesia.
Dalam ruang Pancasila dan UUD 1945, nampak hubungan Gereja dan Negara yang dapat dikatakan relatif baik. Negara Republik Indonesia adalah Negara yang didasarkan atas ideologi Pancasila. Negara ini bukan negara teokratis yang berdasarkan agama. Sekalipun Negara Rep. Indonesia bukan negara keagamaan, namun R.I. bukan juga negara sekuler, melainkan Hindu dan Budha. Pas. 29 ayat 1 UUD 1945 mengungkapkan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, bahwa Pas. 29 ayat 1, tersebut mengungkapkan, bahwa bangsa Indonesia percaya terhadap Tuhan Yang maha Esa. (Lihat Penjelasan UUD 1945). Dengan kata lain, bangsa Indonesia pada hakekatnya adalah bangsa yang religius. Apakah religiusitas tsb dapat bertahan terus menerus dengan merembesnya dalam tempo yang agak cepat yakni ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta filsafat yang mendasarinya, tidak dipersoalkan di sini. Yang penting, adalah bahwa baik ideologi Negara Pancasila, maupun dalam UUD 1945, agama mendapat perhatian yang khusus oleh Negara. Malahan UUD pasal 29 ayat 2 mengatakan, bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Dan dalam penjelasan atas B II angka 1 Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ket. MPR No II/MPR/1978) ditegaskan lagi, bahwa, “kebebasan beragama adalah merupakan salah satu hak yang paling asasi diantara hak-hak asasi manusia, karena kebebasan beragama itu langsung bersumber kepada martabat manusia sebgai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan beragama bukan pemberian Negara atau pemberian golongan.” Jadi hak kebebasan beragama dinyatakan sebagai “inalienable right” oleh P4.
Ditinjau baik dari sudut ideologi Pancasila dan P4-nya, maupun dari sudut Konstitusi, maka hubungan Negara dan Agama pada umumnya nampak jelas teratur. Negara tidak acuh tak acuh terhadap agama, melainkan justru bersikap positif dan kreatif. Namun Negara tidak didasarkan atas salah satu agama.
Berbicara tentang Gereja dan Negara, maka perlu kita membuat distinksi antara agama dan Gereja. Gereja adalah suatu bentuk dari pada Agama Kristen, malahan bentuk yang terpenting . Inti dari pada agama adalah kultus dalam nya manusia memainkan peranan. Orang berdoa, menyanyi, memuji Tuhan, orang menyatakan pengakuan iman, orang membaca dan berkhotbah, ada pula makan dan minum pada Perjamuan Kudus, dsb.
Setiap orang Kristen sebenarnya tergabung pada Gereja Tuhan. Setiap orang percaya kepada Kristus berada dari pada sendirinya dalam ruang Gereja. Ia adalah anggota dari pada apa yang Rasul Paulus katakan, Tubuh Kristus; atau Persekutuan orang-orang kudus, menurut Pengakuan Rasuli. Tetapi disamping Gereja yang berbentuk organisasi orang-orang percaya itu, dalamnya diselenggarakan tugas-tugas kesaksian , pelayanan, penataan Gereja, liturgi, dsb, terdapat pula, perkumpulan-perkumpulan Kristen, yayasan-yayasan, lembaga-lembaga, dsb yang struktural dapat lepas dari pada Gereja. Pokoknya yang disebut agama Kristen mempunyai konotasi yang lebih luas dari pada Gereja. Tetapi jelaslah sudah, bahwa yang satu tidak terlepas dari pada yang lain.
Apabila dalam rangka Pancasila dan UUD 1945, agama mempunyai tempat yang integral dalam tata-hidup bangsa dan negara, maka itu berarti bagi agama Kristen, bahwa Gereja mendapat pula tempat yang tertentu. Dan jelaslah sekarang pula hubungan Gereja dan Negara. Negara tidak memaksakan kenegaraannya kepada Gereja, tetapi mengatakan kepada Gereja tentang posisinya dan kewajibannya sebagai suatu lembaga keagamaan dalam masyarakat. Gereja merasa ikut bertanggung-jawab dalam semua hal yang menyangkut masyarakat.
Dalam hal ini Gereja menjawab secara positif, ada solidaritas dan solidaritas Gereja itu adalah solidaritas yang kritis. Disebutkan kritis, karena Gereja mempunyai standard of judgment sendiri tentang keadaan dunia, yakni Firman Tuhan atau kehendaknya. Dengan kata lain, dalam rangka Pancasila dan UUD 1945, Gereja adalah partner yang dinamis dan kreatif dari pada negara, partner yang bertanggung –jawab dalam rangka pembaharuan bangsa, masyarakat dan dunia. Karena itu, demi untuk memperbaiki keadaan masyarakat dan menjamin masa depan, maka Gereja wajib ikut aktif melayani ABRI sebagai aparatur Negara dengan menugaskan pendeta-pendetanya dalam lembaga tersebut.
Sebelum mengakhiri uraian singkat tentang relasi Gereja dan Negara, perlu sekali dikemukakan tentang partai-partai politik. Sebab dalam konteks hubungan Gereja dan Negara, partai politik mesti diikutsertakan. Malahan partai politik dilihat dari sudut ideal mempunyai kaitan juga dengan gereja. Partai politik ingin mendatangkan kebaikan bagi masyarakat, kebenaran, keadilan bagi seluruh bangsa. Disamping partai politik di Indonesia terdapat pula kekuatan lain, yakni Golongan Karya (Golkar).
Untuk memberikan penjelasan selanjutnya perlu dikemukakan sedikit tentang Demokrasi, sebab Parpol dan Golkar, adalah komponen-komponen yang penting dalam paham demokrasi di Indonesia. Lepas dari pada persoalan cara-cara demokrasi direalisasikan di Indonesia, adalah soal paham dasar dari pada demokrasi itu. Dan berikut muncul pertanyaan tentang partai politik. Artinya Parpol dan Golkar perlu mengetahui paham dasar dari pada demokrasi.
Kami catat, bahwa kehidupan bersama bangsa atau nasion mesti ditata. Penataan itu dibimbing oleh insight yang diperoleh dari pada ideologi pancasila serta P4-nya dan konsekwensinya dalam tata hukum berdasarkan UUD 1945. Ini adalah tugas dari pada penguasa dalam kerjasama dengan Parpol-parpol dan Golkar. Tetapi ada baiknya pula, demi untuk melengkapi gambaran keluarga besar Indonesia, apabila lembaga-lembaga lain dalam masyarakat diajak bersama dalam pelaksanaan tugas termaksud diatas, ump. Gereja.
Dalam hubungan ini, paham dasar dari pada demokrasi adalah, bahwa dalam persoalan-persoalan hakiki dan fundamental yang menyangkut manusia, persoalan-persoalan sebagai pemegang kekuasaan, berembuk dengan rakyat melalui Parpol-parpol, Golkar dan lembaga-lembaga masyarakat yang non-Pemerintah, non-Partai dan non-Golkar.
Paham dasar demokrasi di sini menyangkutkan manusia pada persoalan mengenai kebenaran, kebaikan dan keadilan. Dan ini kena pada semua yang bersangkutan dalam negara, melainkan pula alam atau lingkungan. Jadi paham demokrasi di sini menyangkut persoalan manusia dan eksistensinya. Cara mengadakan perembukan termaksud adalah bermusyawarah dan mencapai mufakat.
Partai politik atau organisasi massa yang tidak menamakan dirinya partai politik dan ikut membicarakan soal-soal politik, yakni Golkar, adalah organisasi bebas yang dibentuk oleh warga negara-warga negara yang bebas pula dengan maksud berpartisipasi sepenuhnya dalam hidup umum masyarakat secara kreatif dan dinamis.
Ditinjau dari sudut idiil, semua partai politik dan Golkar terikat pada dasar Negara, yakni Pancasila serta P4-nya dan UUD 1945.
Dalam hubungan dengan catatan dengan Parpol dan Golkar di atas, maka ada 2 hal  yang meminta perhatian. Pertama, bahwa bangsa Indonesia hidup bersama sebagai satu nation atau sebagai satu keluarga besar. Hidup bersama itu mesti ditata sebaik-baiknya oleh orang-orang yang mengetahui dan sekaligus merupakan orang-orang yang bijaksana. Apakah penataan hidup bersama tersebut dapat dilakukan hanya oleh teknokrat-teknokrat, yaitu mereka yang “technically trained” yang ditempatkan pada pusat-pusat pengambilan keputusan tentang masalah-masalah politis? Pendapat kami, tidak, malahan dapat membahayakan. Karena paham bahwa teknorat ilmiah dapat mendatangkan segala yang dibutuhkan masyarakat, atau ia dapat menyembuhkan segala penyakit masyarakat, adalah naif.
Kepemimpinan politik adalah seni, bukan science ; seni tentang apa yang mungkin dan apa yang tidak. Political leadership membutuhkan charisme, karunia intuisi, bahkan naluri juga. Jadi dalam proses pengambilan keputusan politis ada faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan, bukan saja ilmu dan teknokrasi. Kedua, menata hidup bersama, berarti, bahwa manusia yang mahir dalam pemikirannya dan bijaksana dalam mengambil keputusan, mesti pandai memilih dan menentukan mana yang baik, mana yang tidak bagi kehidupan bersama, mana yang benar, mana yang tidak. Ini adalah tugas penting dari Parpol dan Golkar dalam demokrasi. Dan pekerjaan ini adalah lebih dari pada pekerjaan seorang teknokrat. Tugas yang mencakup pengetahuan dan pilihan tentang yang baik, benar dan adil, dilakukan oleh partner-partner dalam musyawarah, yakni Parpol dan Golkar.
Kalau kesadaran demikian hidup dalam Parpol-parpol dan Golkar, maka Gereja patut menghargai Parpol-parpol dan Golkar. Dengan kata lain, apabila dalam pandangan Gereja, Negara itu adalah soal yang suci, maka Parpol dan Golkar adalah juga soal yang suci. Dan dalam merumuskan relasi Gereja dan Negara, harus pula dicantumkan unsur Parpol dan Golkar. Dan ini adalah tugas Gereja, yakni gereja-gereja dalam hubungan oikumenis.[1] Melihat akan baiknya hubungan relasi pemerintah gereja terhadap pertumbuhan  akan sangat berdampak juga pada  perkembangan injil ditengah agama/ kepercayaan suku.  Seperti suku batak, sumatra utara, dimana suku yang sangat kental akan budaya dan kepercayaan suku membuat suku ini bebrapa kali dikunjungi oleh misionaris, namun sempat mengalami kegagalan yang kegagalan inilah yang membuat nomensen gigih dalam memperjuangkan nasib penginjilan ditengah-tengah kepercayaan suku. Tidak hanya berhenti disitu saja namun mampu menjadi awal mulanya gereja muncul berkat kegigihan nomesen lahirlah gereja hkbp. Kita akan melihat perkembangan pekabaran injil saat ini terjadi di suku sunda.
Mengerti dan memahami bahasa suku Sunda.
Untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat, maka kita terlebih dahulu harus mengerti bahasa yang mereka pakai untuk berkomunikasi. Bagaimana komunikasi kita akan berlangsung dengan lancar,kalau kita tidak mengerti dan memahami bahasa sunda,karena bahasa sunda sendiri ada tingkatannya.Berbicara kepada orang yang lebih tua usianya ,maka
bahasa yang akan digunakan bahsa sunda yang lembut,beda dengan ketika
kita bercakap-cakap dengan yang sebaya dengan kita. Oleh sebab itu kita harus mengkomunikasikan  injil kepada mereka harus menggunakan Alkitab berbahasa sunda,dengan jalan membagikan Alkitab yang berbahasa sunda kepada mereka.Sehingga mereka mudah untuk mengerti dan memahami Injil.Menceritakan Injil dengan sabar serta
santun,tentang Tuhan Yesus. Serta dapat juga menceritakan Injil melalui cerita rakyat yang mungkin ada hubungannya dengan tokoh-tokoh penyelamat mereka. Tetapi hanya sebagai kontekstualisasi.

Mengadakan pendekatan (bermasyarakat ) terhadapa suku Sunda
Ada beberapa media dan fasilitas yang bisa digunakan dalam mengkomunikasikan Injil kepada suku sunda,diantaranya: Membangun hubungan dalam pergaulan,kita harus berbaur dengan mereka,sehingga kita dapat memberi teladan melalui prilaku kita yang sopan,tutur kata ramah, dan sikap kita sehingga menjadi kesaksian yang hidup .Dalam
komunikasi dengan mereka kita harus memiliki:
Keterampilan Mendengar Bukan sekedar mendengar dengan telinga tapi dengan mata juga, kontak mata memang penting,juga mendengar dengan hati.Bukan hanya mendengarkan kata-kata, melainkan juga perasaan,emosi, dan nada dibalik kata-kata tersebut.

Empati Kita harus menyelami keadaan mereka.Bukan berarti kita setuju dengan mereka, melainkan memahami latar belakang atau sejarah kehidupannya. Jika mereka memiliki keberatan yang kuat tentang Kristus atau mempunyai konsep yang keliru,kita harus mengerti apa yang mereka katakan. Keterampilan berkata-kata, Kita harus tahu dalam berkata – kata bukan hanya apa yang kita katakan ,melainkan kapan kita mengatakannya dan bagaimana kita mengatakannya. Contoh,Rasul Paulus memakai kesaksian pribadinya.Paulus memiliki tekad yang bulat untuk bersaksi(KIS 17:16),Paulus bersaksi setiap waktu(KIS 17:2)dan kapan saja(KIS 17:16-34) Paulus menciptakan untuk bersaksi melalui kata-kata(KIS 17) Bahasa Tubuh Bahasa Tubuh sangat penting dan merupakan sarana komunikasi yang sangat kuat.Ketika kita bersaksi tentang Injil, hendaknya kita tidak menyalurkan gelagat
kemarahan, ketidaksabaran, cemoohan, ataupun kesan sombong, merasa lebih
baik dari orang lain. Memberikan pelayanan Untuk menjangkau masyarakat yang tidak ada biaya untuk pergi berobat, maka diadakan, penyuluhan kesehatan, lewat hal ini kita dapat menceritakan Injil keselamatan.[2] Pembahasan selanjutnya adalah pengaruh budaya local dan barat terhadap pekabaran injil. Pengaruh ini sangat mendorong gerakan percepatan pada bidang penginjilan dengan adanya budaya dari daerah dengan barat menjadi warna yang sangat menarik untuk dikuti dan terus di jalani. Walaupun dalam kenyataanya akan ada sebuah gesekan pada nilai tukar  budaya tersebut. Bagaimana dengan saat ini mari kita simak para misionaris perlu mengetahui hal tersebut, agar Injil yang mereka sampaikan itu mudah menembus masyarakat yang akan mereka Injili, pada kenyataannya banyak para misionaris yang berhasil dalam penginjilannya karena mereka menguasai terlebih dahulu daerah maupun masyarakat yang hendak mereka tuju, (Ilmu yang mempelajari hak tersebut adalah Antropologi, dan diberikan sebagai mata kuliah mahasiswa Theologia) sebagai contoh pada saat Injil masuk ke Pulau Nias (Bagian barat Pulau Sumatra) Denninger (missionaris pertama di Nias) mempelajari bahasa dan tata serta cara hidup masyarakat setempat, sehingga penginjilannya di Nias berhasil dan saat ini masyarakat Nias 90% Kristen, inilah bukti bahwa penginjilan berbasis pada penyesuaain kebudayaan akan berhasil.[3] Pengaruh bahasa terhadap PI dan pemuridan. Bahasa merupakan sarana komunikasi yang efktif bagi pekabaran injil namun, hal ini akan menjadi penghalang jika penginjil tidak mengerti cara berkomunikasi dengan baik. Akan lebih baik penginjil terlebih dahulu memahami bahasa sehinggah penjangkauannya sampai. Bila bahasa adalah saat ini juga sangat bermanfaat, dimana interaksi juga sangat dimudahkan berbagai fasilitas untuk mengerti bahasa satu dengan bahasa lain.
 Salomo adalah Raja Israel ketiga yang memerintah selama 40 tahun. Akan tetapi, dia adalah raja pertama Israel yang berdasarkan garis keturunan. Raja Saul dan Daud, seperti para hakim, dipilih karena mereka dikaruniai Allah suatu kekuasaan khusus: mereka adalah penguasa berdasarkan karunia. Salomo adalah putra kedua Daud dengan Batsyeba (2 Samuel 12:24). Nabi Natan menyebutnya Yedija, “kekasih Yahweh“; (yedid = kekasih; ya = Yahweh; 2 Samuel 12:25). Salomo (sy`lomoh, barangkali berarti damai sejahtera) tidak muncul dalam cerita Alkitab sebelum saat-saat terakhir pemerintahan Daud (1 Raja-Raja 1:10), walaupun ia lahir di Yerusalem (2 Samuel 5:14) pada awal pemerintahan ayahnya. Sebelum Daud mangkat, dia memilih Salomo untuk meneruskan tonggak pemerintahannya. Meski demikian, perjalanan Salomo menuju takhta kerajaan tidaklah mulus. Adonia, anak tertua Daud mengadakan perlawanan (2 Samuel 3:4). Ia sangat menginginkan takhta kerajaan Israel menjelang akhir hidup ayahnya (1 Raja-Raja 1:5). Didukung oleh Yoab, panglima Daud yang sudah diberhentikan dan yang telah membunuh Absalom (2 Samuel 18:14-15), dan oleh Abyatar, imam yang berpengaruh, Adonia mengumpulkan dukungan, bahkan mengadakan pesta pemahkotaan di En-Rogel. Menghadapi hal ini, Salomo yang bersekutu dengan Benaya, anak Yoyada, dan Zadok tetap memperjuangkan haknya. Setelah mendapatkan nasihat lagi dari Natan, Daud pun mengeluarkan perintah untuk mengangkat Salomo naik takhta dan mengesahkannya dengan sumpah (1 Raja-Raja 1:28). Pada masa mudanya, Salomo hidup saleh seperti ayahnya, Daud. Dia hidup berkenan di mata Allah hingga Dia memberikan pilihan kepada Salomo, untuk meminta apa pun yang dia mau (1 Raja-Raja 3:5). Luar biasa! Dengan mempertimbangkan bahwa dia mendapatkan tugas yang berat sebagai seorang raja, maka dia meminta agar Tuhan Allah memberikan kepadanya hati yang paham atau hikmat (1 Raja-Raja 3:9), ketimbang meminta kekayaan dan hal-hal yang lain. Allah memberikan apa yang dia minta, maka dia bisa memerintah bangsa Israel yang besar dengan arif, adil, dan bijaksana. Cerita pertengkaran dua perempuan sundal mengenai bayi mereka (1 Raja-Raja 3:16) merupakan contoh yang luhur, yang menunjukkan hikmat Salomo. Tuhan telah mengangkatnya menjadi orang paling berhikmat di seluruh dunia, tidak ada seorang pun yang lahir sebelum atau sesudah Salomo, yang memiliki hikmat seperti dia. Bahkan, Tuhan memberkatinya dengan harta kekayaan dan kuasa yang semakin banyak dan luas. Kebesaran hikmat yang dimiliki Salomo sangat mengagumkan hingga membuat ratu negeri Syeba datang ke istana Salomo untuk menemuinya (1 Raja-Raja 10:1-13; 2 Tawarikh 9:1-31). Salomo sangat cerdas dalam menjalin hubungan internasional serta menjaga kekayaan bangsanya dan bebas dari perang. Hubungannya dengan negara-negara lain (Mesir dan Amon lewat perkawinan, dengan Fenesia dan Arab lewat perdagangan) juga terjalin dengan sangat baik (1 Raja-Raja 5:45). Meskipun pada masa pemerintahan Solomo, daerah Edom dan Damsyik melepaskan diri (1 Raja-Raja 11:14-25), namun kerajaannya tetap kokoh. Negara kekuasaannya dibagi atas 12 daerah yang secara tetap harus menjamin penyerahan upeti kepada istana (1 Raja-Raja 4:7-19). Pada masa pemerintahan Salomo, Bait Allah juga berhasil dibangun. Sayangnya, pembangunan-pembangunan yang mewah memaksanya mengerahkan kerja paksa bagi orang Israel maupun bukan Israel. Pembangunan itu tertuju pada pertahanan negara, istana, dan rumah ibadat. Banyak kota yang diperkuatnya. Ia juga membentuk pasukan yang menggunakan kereta dan ditarik kuda dan mendirikan kota-kota garnisun (1 Raja-Raja 9:19; 1 Raja-Raja 10:26). Dengan bimbingan tenaga ahli dari Fenesia, ia mendirikan istana yang dikelilingi tembok. Di situlah dia membangun “rumah hutan Libanon”, serambi balai singgasana dan kenisah baru. Salomo mengambil biaya pembangunannya dari hasil perdagangannya (1 Raja-Raja 9:26-28), dari bea dan cukai (1 Raja-Raja 12:4), dan dari industri logamnya. Karya Sastra Selain terkenal sebagai raja yang bijaksana dan berhikmat, Salomo juga dikenal sebagai salah seorang penulis Alkitab — Kitab Amsal, Kidung Agung, Pengkhotbah, dan beberapa Mazmur. Bahkan, dia juga menulis kumpulan 18 Mazmur dari tahun 63 dan 30 sebelum Masehi, kumpulan nyanyian yang terdiri atas 42 nyanyian berasal dari abad II sesudah Masehi, dan Wasiat dari abad III atau IV Masehi. Dua kumpulan amsal yang luas yang terdapat dalam Amsal (Amsal 10:1-22,:16, Amsal 25:1-29:27) dikaitkan kepadanya, dan seluruh kumpulan amsal itu memakai nama Salomo sebagai penulis utama (Amsal 1:1). Kidung Agung dan Pengkhotbah mengisyaratkan bahwa Salomo penulisnya, walaupun kitab terakhir tidak menyebut namanya. Kendati penyusunan terakhir kedua kitab ini agaknya jauh lebih kemudian dari abad 10 sebelum Masehi, tapi keduanya mengandung kecermatan, kemuliaan, dan pikiran Salomo. Dua Mazmur (Mazmur 72 mengenai raja itu; Mazmur 127 tentang hikmat) menggenapkan daftar bagian Alkitab yang dikaitkan kepadanya. Tak seorang pahlawan pun pada zaman kuno yang begitu luas dipuja dalam sastra rakyat, kecuali Salomo. Cerita-cerita Yahudi, Arab, dan Ethiopia tentang kejayaan ilmu dan pengetahuan Salomo, dan tentang kekuatan-kekuatan gaibnya ada sangat banyak. Sebagai seorang raja, Salomo bertugas untuk menata, mengembangkan, memperluas, dan menguasai daerah yang diwariskan Daud kepadanya. Selanjutnya, ia harus melaksanakan peralihan damai dari perserikatan suku-suku, yang menjadi ciri hidup politik sebelum Raja Daud ke suatu pemerintahan pusat yang kuat, satu-satunya yang dapat mempertahankan Kerajaan Israel. Pada masa pemerintahannya, Salomo menetapkan perbatasan wilayah suku yang awalnya berdasarkan keturunan, kemudian diganti menjadi wilayah-wilayah administratif: dua belas di Israel (1 Raja-Raja 4:7) dan mungkin satu di Yehuda. Masing-masing wilayah administratif diwajibkan membayar pajak guna menjamin pengadaan dana bagi istana Raja Salomo. Kemampuan Salomo dalam berdagang pun cukup besar. Ia tahu benar betapa pentingnya kedudukan Israel sebagai jembatan yang menghubungkan Mesir dengan Asia. Oleh karena itu, ia memanfaatkan kedudukannya itu dengan menguasai jalan kafilah utama dari Utara ke Selatan. Perjanjian-perjanjian yang mengikat antara dia dengan Hiram, Raja Tirus, menyediakan armada baginya, yang memungkinkannya memonopoli jalur pelayaran laut. Namun demikian, Salomo tidak memiliki gerakan militer yang menonjol. Tanggung jawabnya ialah mempertahankan perbatasan-perbatasan Israel yang luas itu, memantapkan dan memanfaatkan kekuasaannya selagi tidak ada kekuatan tandingan karena keruntuhan Mesir dan Asyur. Dua kebijaksanaan utama politik luar negeri Salomo adalah persekutuan bersahabat yang kadang-kadang diteguhkan dengan pernikahan dan memiliki tentara raksasa. Kejatuhan Salomo terjadi karena dia menikahi banyak perempuan asing (Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het). Perkawinannya dengan perempuan-perempuan asing membawa agama-agama asing, yang diungkapkannya dalam doa saat menahbiskan dan mempersembahkan Bait Suci kepada Yahweh (1 Raja-Raja 8:23, 1 Raja-Raja 8:27). Keyakinan Raja Salomo menjadi luntur akibat mengikuti sinkretisme untuk menyenangkan hati para istrinya. Parahnya lagi, karena pengaruh istri-istrinya itu, dia akhirnya meninggalkan Tuhan Allah dan mengikuti ilah-ilah yang disembah istri-istrinya itu. Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon. Bahkan, Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. Dia juga mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. Demikianlah ia melakukannya bagi semua istrinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Karena sikapnya inilah, Tuhan Allah murka terhadap Salomo. Banyak lawan yang bangkit untuk menentangnya. Kerajaannya pun terkoyak. Salomo memerintah selama 40 tahun, dia digantikan oleh anaknya, Yerobeam. Sementara perihal kapan Salomo meninggal tidak diketahui dengan pasti.

Sumber: Bio-Kristi 97. Posted by papoesetnic on 29 Agustus 2013



[1] Prof. Dr. P.D. Latuhamallo, Kewarganegaraan yang Bertanggungjawab 1995, Beberapa Catatan Tentang Relasi Gereja dan Negara, © 2011 Copyright Institut Leimena. All Rights Reserved.

[2]BERNATH HUTAGAOL , PENGINJILAN KONTEKSTUAL TERHADAP SUKU SUNDA , 23 September 2013, Misi Penginjilan.

 

 


[3] Dermawan laoli, Pengaruh injil terhada
p kebudayan, 30 desember 2011.















































































































































































































meringkas buku Leon Morris

MEMBACA DAN MERINGKAS PIKIRAN POKOK BUKU TEOLOGI PERJANJIAN BARU LEON MORRIS Pendahuluan.             Meskipun Teolo...